Penyakit Autoimun

Penyakit Autoimun

Penyakit Autoimun Berarti Tubuh Menyerang Diri Sendiri

Penyakit autoimun atau gangguan sistem kekebalan tubuh menyerang dan merusak jaringannya sendiri. Padahal, sistem kekebalan tubuh seharusnya menjadi benteng bagi tubuh dalam melawan penyakit dan sel asing, seperti bakteri dan virus.

Gangguan ini dapat menurunkan kemampuan tubuh melawan virus atau bakteri, sehingga dapat menyebabkan kerentanan tubuh untuk menghadapi infeksi. Saking banyaknya, tercatat ada 80 jenis penyakit autoimun dengan gejala yang sama.

Ini menyulitkan seseorang untuk diketahui apakah dia menderita autoimun atau tidak dan jenis yang mana. Sementara, penyebab autoimun masih belum pasti.

Penyakit Autoimun Berarti Tubuh Menyerang Diri Sendiri - Alodokter

Degenerative Diseases
Why our body cells react to certain chemical stimuli can perhaps be linked to evolution. Man evolved from an ocean environment, which is alkaline in nature. Coming from this ocean environment has programmed the cells of our body to also be alkaline at a pH level between 7.1 and 7.3 (7.0 being neutral). Normal function is best at these levels. The cells of an individual with a degenerative or autoimmune disease are very often linked to the bodies over acidity. This condition is known as “Chronic Acidosis”, which is the contributing factor in all-degenerative and autoimmune diseases. Most bodily chemical reactions necessary to maintain normal life functions, and there are literally thousands, must occur within the narrow pH range of 7.1 to 7.3 as mentioned above. When this range is over the normal level, the body becomes acidic. It is when the condition of acidosis occurs, the body cells will develop a free radical state and it is this free radical state that is destructive to the cells. As this process is allowed to continue without intervention, the development of degenerative diseases will occur, and is highly dependent on our diet. The expression “you are what you eat” has more meaning than you can realize. As you can see, the body works best in an alkaline state. Keeping the body in an alkaline state is the ideal situation. The average American Diet will fall into the acidic range and tends to neglect the alkaline diet range. As this occurs the body will leech the alkaline reserves, such as calcium, magnesium and manganese from the bones and muscles. If the leeching of these minerals is allowed to continue, osteoporosis, arthritis and other autoimmune diseases will occur. What then can the individual in this acidic state do to counteract this free radical destruction? Read the Health Hints below for the best way to stop this insidious destruction to our bodies.

autoimun,rheumatoid arthritis,herbal medicine,acupuncture

Health Hints***

You should know that most fruits and vegetables are alkaline forming. Most meats and refined carbohydrates are acid forming. Carbonated soft drinks are also acid forming. Most people have been or are on some type of. Diet in their lifetime. What they don’t realize is that each of us is different biochemically speaking, and that our needs are vastly different from one individual to another. Because of this it stands to reason that one diet will not fit all. Knowing what you have just learned about maintaining the pH level of the body to maintain optimum health in preventing disabling degenerative diseases, it will be up to the individual to find a happy medium in their diets. You need to choose foods that have the highest concentrations of calcium and magnesium. Calcium will help build bone mass and maintain healthy teeth. It also promotes nerve function and strengthens heart muscle. It activates the enzymes that give the body its energy. Above all it will prevent the body from leeching the calcium in bones, thus preventing osteoporosis. Excellent sources of calcium can be found in: Green leafy vegetables, milk, buttermilk, yogurt, and other dairy products. Sardines are also an excellent source of calcium. Magnesium is another needed mineral to promote the growth of bone. It too, will activate enzymes that release energy in the body and helps build cells and genetic material. Good sources for magnesium can be found in: Green leafy vegetables, whole grain cereals, nuts, and breads. Scallops and oysters are also an excellent source of magnesium. Magnesium is an often-overlooked mineral and is not given the respect that it is due in our diets. ,tuberculosis treatment,pulmonary tuberculosis

baca juga  Ruam Popok

Most of us find it difficult to incorporate the needed 5 servings of vegetables in our daily diet. If we are fortunate enough to get the full daily requirement, the chances are we will not be getting the needed vitamins and minerals. This most likely will be due to how the vegetables are prepared. A good part of the nutrients are lost in the preparation, the vegetables may not be fresh, and a good part of the nutrients lowered in the farming procedures. Another important factor is the decrease in metabolism, as we grow older. This decrease in metabolism reduces the vitamins and minerals that the body absorbs. These much needed nutrients can cause the body to go into a state of acidosis that will result in the leeching of the necessary vitamins and minerals from the bony structures. Because of this undernourishment of the needed vitamins and minerals, it is important that we supplement our diets with additional vitamins and minerals so that we get our full daily requirements. Calcium 1200 mgs should be taken up to age 70. Over age 70 1600 mgs should be the daily dosage. In addition to the calcium, 400 mgs of vitamin D is needed to aide in the absorption of the calcium. Osteoporosis is generally thought to be a female problem, which is not true. Men can be as prone to osteoporosis as women and need to observe the daily requirements as specified above.

Magnesium, the forgotten mineral is a must and should be taken according to the condition of the body’s skeletal structure. Normally, 30 mgs will be sufficient, but can be taken up to 200mgs if the body reveals a higher requirement. This requirement can only be checked with a blood test to determine if the blood magnesium is high or low. If it is found to be low the milligrams of magnesium taken should be increased.

baca juga  Pilek

Graduated from Chiropractic Institute Of New York, August 15, 1950. Practiced in New York for 17 years. Practiced in New Jersey for 20 years. Practiced in Florida for over 16 years. On retirement started a website: ,herbal supplements,natural remedies

and have been devoting my time to the website. I developed an exercise program while in practice and called it “Doctor’s Senior Exercise Program”. It worked so well that I produced a video of it and made it available on my website. I also wrote a book called “Doctor’s Journal, A Guide For Senior Longevity”. I also send out a monthly newsletter to a large list of subscribers to which anyone may subscribe too. I have written a great many articles that are helpful to baby boomers and seniors. These articles are geared to inform all individuals concerning a great many diseases and conditions that impact us all. I have entered over 149 articles on EzineArticles.com.

 

Penyakit Autoimun yang Paling Sering Ditemui

Dari sekian banyaknya jenis penyakit autoimun, beberapa penyakit autoimun di bawah ini merupakan yang sering sekali ditemui, di antaranya:

  • Rheumatoid arthritis
    Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang sering ditemui. Sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi yang menyerang pelapis sendi. Akibat dari serangan antibodi ini adalah peradangan, pembengkakan, dan nyeri pada sendi. Reaksi radang yang parah juga bisa menimbulkan kerusakan pada bagian tubuh lain, seperti kulit, mata, dan paru-paru.
    Jika tidak diobati, penyakit ini akan menyebabkan kerusakan permanen pada sendi. Untuk mencegahnya memburuk, penderita rheumatoid arthritis biasanya akan diberikan obat minum atau suntik yang berfungsi mengurangi aktivitas sistem kekebalan tubuh.
  • Lupus
    Penyakit autoimun lainnya yang sering kita dengar adalah systemic lupus erythematosus(SLE), atau biasa kita sebut dengan lupus saja. Penyakit ini menyebabkan terbentuknya antibodi yang justru menyerang hampir seluruh jaringan tubuh penderitanya. Beberapa bagian tubuh yang paling sering diserang adalah sendi, paru-paru, ginjal, kulit, jaringan penyambung tubuh, pembuluh darah, sumsum tulang, dan jaringan saraf. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan lupus. Pengobatan lupus umumnya bertujuan untuk menekan sistem kekebalan tubuh, sehingga mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut.
  • Diabetes tipe 1
    Penyakit ini biasanya akan terdiagnosis sejak usia kanak-kanak atau dewasa muda. Penyakit diabetes tipe 1 disebabkan oleh serangan sistem kekebalan tubuh pada sel-sel pankreas yang memiliki tugas memproduksi insulin. Hal ini menyebabkan terganggunya produksi insulin sehingga tubuh tidak mampu mengontrol kadar gula darah.
    Jika hal ini tidak dihentikan, maka berisiko menimbulkan kerusakan pada berbagai organ, seperti ginjal, mata, otak, jantung, atau pembuluh darah. Untuk penanganannya, penderita diabetes tipe-1 akan diberikan suntikan insulin. Selain itu, penderita juga wajib melakukan pemantauan kadar gula darah, menerapkan pola makan yang sehat, dan olahraga teratur.
  • Multiple sclerosis (MS)
    Pada saat sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sel-sel saraf sendiri, beberapa gejala yang mengerikan berisiko muncul sebagai akibatnya. Kondisi ini biasa disebut dengan multiple sclerosis alias MS. Beberapa gejala yang bisa timbul adalah nyeri, kebutaan, gangguan koordinasi tubuh, dan spasme otot. Gejala lainnya yang mungkin timbul adalah tremor, mati rasa di area tungkai, kelumpuhan, susah bicara, atau susah berjalan.
    Untuk mengobatinya, obat-obatan tertentu bisa digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Fisioterapi dan terapi okupasi dapat dilakukan untuk membantu pasien MS dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Penyakit Graves
    Penyakit Graves adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif. Orang yang menderita penyakit ini kemungkinan akan mengalami beragam gejala yang bisa mengganggu kegiatan sehari-harinya. Kesulitan tidur, mudah tersulut emosi, berat badan turun tanpa sebab, dan mata menonjol adalah sebagian gejalanya. Gejala lain yang mungkin timbul adalah terlalu peka pada hawa panas, otot lemah, tremor (tangan bergetar), dan gangguan menstruasi.
    Untuk mengobati penyakit Graves, penderita kemungkinan akan diberikan pil radioaktif iodium. Pil ini digunakan untuk membunuh sel-sel kelenjar tiroid yang terlalu aktif. Pasien dapat juga diberikan obat anti-tiroid, obat hipertensi golongan beta blocker, dan kortikosteroid. Beberapa kasus penyakit Graves perlu ditangani dengan prosedur pembedahan.
  • Psoriasis
    Psoriasis adalah kondisi terlalu aktifnya sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan kulit mengalami kondisi kronis. Kondisi ini disebabkan oleh salah satu sel darah dalam sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif, yaitu sel-T. Berkumpulnya sel-T di kulit merangsang kulit untuk tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Gejala psoriasis yaitu muncul bercak di kulit yang bersisik dan pengelupasan kulit yang meninggalkan lapisan berwarna putih mengkilap. Untuk menanganinya, dokter akan memberikan obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid, juga terapi cahaya.
baca juga  Pilihan Makanan Yang Mengandung Lemak Sehat

Beberapa Faktor Risiko Terkena Penyakit Autoimun

Sejauh ini penyebab penyakit autoimun masih belum diketahui. Meski demikian, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih berisiko menderita penyakit autoimun, yaitu:

  • Genetik atau keturunan
    Faktor risiko utama dari penyakit autoimun adalah faktor genetik. Meski demikian, faktor ini bukan satu-satunya yang bisa memicu reaksi kekebalan tubuh.
  • Lingkungan
    Faktor lingkungan merupakan hal penting dalam timbulnya penyakit autoimun. Faktor lingkungan mencakup paparan zat tertentu seperti asbes, merkuri, perak dan emas, serta pola makan yang kurang sehat.
  • Perubahan hormon
    Beberapa penyakit autoimun sering kali menyerang perempuan pasca melahirkan. Hal ini menyebabkan hadirnya sebuah asumsi bahwa penyakit autoimun terkait dengan perubahan hormon, misalnya saat hamil, melahirkan, atau menopause.
  • Infeksi
    Beberapa penyakit autoimun sering kali dikaitkan dengan terjadinya infeksi. Hal ini wajar karena sebagian gejala penyakit autoimun diperburuk oleh infeksi tertentu.

Meski penyakit autoimun masih belum diketahui penyebabnya, namun kita bisa mewaspadai berbagai faktor risiko di atas. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala dari penyakit-penyakit di atas. Makin cepat diketahui, maka makin besar kemungkinan untuk bisa mencegah terjadinya komplikasi akibat penyakit autoimun.

Jika bermanfaat. Silakan Share :