Gagal Jantung Kongestif

Pengertian Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrien

Gejala Gagal Jantung Kongestif

Pada pengidap gagal jantung kongestif, hampir selalu ditemukan:

  1. Gejala paru berupa dyspnea, orthopnea, dan paroxysmal nocturnal dyspnea.
  2. Gejala sistemik berupa lemah, cepat lelah, oliguria, nokturia, mual, muntah, asites, hepatomegali, dan edema perifer
  3. Gejala susunan saraf pusat berupa insomnia, sakit kepala, mimpi buruk sampai delirium.

Penyebab Gagal Jantung Kongestif

Penyebab paling umum dari gagal jantung kongestif adalah penyakit jantung koroner. Penyebab lainnya termasuk fenomena otot jantung tegang, tekanan darah tinggi, serangan jantung, kardiomiopati, penyakit katup jantung, infeksi, aritmia jantung (ritme jantung abnormal), anemia, penyakit tiroid, penyakit paru-paru, dan terlalu banyak cairan tubuh.

Faktor Risiko Gagal Jantung Kongestif

Faktor risiko dari gagal jantung dapat meningkat dengan:

  • Kebiasaan yang tidak sehat, seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan
  • Konsumsi garam berlebih
  • Kurang olahraga atau obesitas (yang menyertai berbagai penyakit koroner)
  • Ketidakpatuhan pada pengobatan atau terapi bagi masalah jantung ringan.

Diagnosis Gagal Jantung Kongestif

Dengan memperhatikan setiap gejala yang muncul dan dari pemeriksaan fisik yang dilakukan, seorang dokter sudah dapat mencurigai bahwa seseorang memiliki CHF, tetapi untuk memastikan hal itu, maka diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut:

  • EKG atau rekam jantung yang dapat mendeteksi kelistrikan jantung, pembesaran jantung, dan otot-otot jantung.
  • Rontgen dada; dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan dapat menunjukkan dilatasi/hipertrofi bilik atau perubahan pembuluh darah mencerminkan peningkatan tekanan pulmonalis.
  • Kateterisasi Jantung; digunakan untuk mengukur tekanan di dalam ruang jantung. tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung kanan versus kiri, stenosis atau insufisiensi, juga mengkaji potensi arteri koroner.
  • Pemeriksaan Elektrolit; untuk mendeteksi perubahan elektrolit dalam tubuh akan terlihat perubahan karena adanya perpindahan cairan/penurunan fungsi ginjal.
baca juga  Gondongan

Pengobatan dan Efek Samping Gagal Jantung Kongestif

Kamu dan dokter dapat mempertimbangkan perawatan yang sesuai dengan kondisimu. Oleh karena pengobatan bisa berbeda tergantung pada kondisi kesehatan secara keseluruhan dan seberapa jauh kondisi CHF telah berkembang.

Ada beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengobati CHF:

  • Angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor) fungsinya untuk membuka penyempitan pembuluh darah sehingga akan meningkatkan aliran darah. Vasodilator adalah pilihan lain jika tidak bisa mentolerir inhibitor ACE.
  • Beta-blocker dapat menurunkan tekanan darah dan memperlambat irama jantung yang cepat.
  • Diuretik mengurangi isi cairan tubuh sehingga akan mengurangi pembengkakan pada tungkai kaki, perut, dan mengatasi sesak akibat edema paru. Contoh obatnya: furosemide, HCT, dan sebagainya.

Jika obat-obatan tidak cukup efektif mengatasi gejala, maka prosedur yang lebih invasif mungkin diperlukan. Angioplasty, yakni prosedur untuk membuka arteri yang tersumbat merupakan salah satu pilihan. Ahli jantung juga dapat mempertimbangkan operasi perbaikan katup jantung untuk membantu katup agar fungsi membuka dan menutup berjalan dengan benar.

Gagal jantung kongestif (CHF) dapat diperbaiki dengan obat atau operasi, seperti penjelasan di atas. Prospek keberhasilan terapi tergantung pada seberapa parah CHF yang kamu dimiliki dan apakah ada penyakit lain yang menyertai, seperti diabetes atau hipertensi. Semakin dini penyakit ini didiagnosis dan diterapi, maka akan semakin baik pula prospek keberhasilan terapi. Selalu berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan rencana pengobatan yang terbaik untuk kamu.

Efek samping atau komplikasi dari gagal jantung kongestif:

  • Tromboemboli adalah risiko terjadinya bekuan vena (trombosis vena dalam atau deep venous thrombosis dan emboli paru atau EP) dan emboli sistemik tinggi, terutama pada CHF berat. Bisa diturunkan dengan pemberian warfarin.
  • Komplikasi fibrilasi atrium sering terjadi pada CHF yang bisa menyebabkan perburukan dramatis. Hal tersebut indikasi pemantauan denyut jantung (dengan digoxin atau β blocker dan pemberian warfarin).
  • Kegagalan pompa progresif bisa terjadi karena penggunaan diuretic dengan dosis ditinggikan.
  • Aritmia ventrikel sering dijumpai, bisa menyebabkan sinkop atau sudden cardiac death (25—50 persen kematian CHF). Pada pengidap yang berhasil diresusitasi, amiodaron, β blocker, dan vebrilator yang ditanam mungkin turut mempunyai peranan.
baca juga  Radang Gusi

Pencegahan Gagal Jantung Kongestif

Lakukanlah beberapa hal berikut ini agar kamu terhindar dari penyakit gagal jantung:

  • Mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, ikan, dan daging. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti gorengan, mentega, es krim dan daging olahan.
  • Batasi asupan gula dan garam.
  • Batasi konsumsi minuman keras.
  • Jika kamu memiliki tingkat tekanan darah dan kolesterol yang tinggi, segera lakukan penanganan. Kedua kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena gagal jantung.
  • Jaga berat badan pada batasan sehat dan lakukan langkah-langkah penurunan berat badan jika diperlukan.
  • Berhenti merokok jika kamu seorang perokok. Jika kamu bukan perokok, maka jauhi asap rokok agar tidak menjadi perokok pasif.
  • Lakukan aktivitas atau olahraga yang dapat membuat jantung sehat, seperti bersepeda atau berjalan kaki, minimal dua setengah jam per minggu.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami beberapa pertanda atau gejala tersebut di atas, disarankan untuk mencari bantuan medis secepatnya, khususnya ketika gejala-gejala tersebut mengganggu kehidupan normal kamu.

Jika bermanfaat. Silakan Share :