Tolak Angin untuk Asam Lambung

Tolak Angin untuk Asam Lambung

Sebelumnya saya memang sering mendengar tentang Tolak Angin dari iklan di televisi, tetapi saya tak pernah tertarik meminumnya. Selain sejak kecil terbiasa dengan obat tradisional yang diracik sendiri oleh tukang urut di kampung, di dalam pikiran kami juga sudah dibentuk pemahaman bahwa semua obat keluaran pabrik pasti mengandung zat kimia yang lama-kelamaan akan merusak tubuh. Alhasil, saya meminumnya di depan pacar dengan dua alasan : yang pertama agar perdebatan dengannya tak menguras banyak energi, dan yang kedua agar tidak kena omelan orangtua yang sangat anti dengan obat-obatan keluaran pabrik.

Dan Tolak Angin berhasil membuat saya tidur nyenyak di dalam perjalanan dari Kota Medan — Sidikalang, yang jalurnya berliku dan menanjak, serta melewati hawa dingin sejak dari kota Berastagi hingga sampai di kota kelahiran — kota kopi.

Sejak saat itu, saya percaya khasiat Tolak Angin. Namun, saya membatasi diri untuk mengkonsumsinya. Hanya diminum ketika gejala masuk angin menyerang. Itupun kalau badan malas bergerak pergi ke tukang urut.

Meredakan Asam Lambung

Saya menderita Asam Lambung yang tinggi sejak duduk di bangku kuliah. Setiap kali telat sarapan atau terlalu banyak minum kopi, pasti Asam Lambung naik. Setelah itu, penderitaan dimulai : perut kembung, ingin muntah tapi tak jadi, dan akhirnya kepala pusing. Saat itu, cara mengatasinya hanya dengan minum air hangat. Syukur-syukur bisa tidur, dan setelah bangun harus cepat-cepat makan.

baca juga  Ketahui Jam Tidur Bayi yang Normal

Cara mengatasi Asam Lambung agar tak naik, saya bertekad makan teratur dan membatasi minum kopi. Kedua cara itu berhasil mengurangi gejalanya. Pernah suatu hari, ketika setelah balik lagi ke Pontianak, perut saya kembung. Saya mengiranya masuk angin karena hari itu tak telat makan dan minum kopi hanya segelas. Setelah minum Tolak Angin, perut rasanya lega. Dan selanjutnya, setiap gejala itu menyerang, saya hanya minum Tolak Angin.

Awal saya tahu Tolak Angin meredakan asam lambung, itu dikarenakan di hari itu saya terlalu banyak minum kopi. Ketika perut kembung dan ingin muntah, saya langsung yakin bahwa Asam Lambung saya naik. Saya tak meminum Tolak Angin karena tahu pasti obat itu hanya untuk masuk angin. Tetapi karena tidak tahan lagi, dan saat itu malam hari — membuat badan rasanya malas keluar rumah, saya ‘terpaksa’ meminumnya seraya berharap di dalam hati, tak berdampak buruk bagi lambung.

Akhirnya, beberapa saat kemudian gejalanya berkurang dan saya bisa tidur. Sejak saat itu, bila Asam Lambung naik dikarenakan tak sanggup menahan godaan aroma kopi untuk menyeruputnya, saya meminum Tolak Angin.

Saya kurang tahu pasti apakah Tolak Angin cocok untuk meredakan Asam Lambung bagi semua orang. Sebab setiap tubuh manusia memiliki karakteristik yang berbeda. Namun bagi saya, sejauh ini Tolak Angin berhasil meredakan sakitnya bila Asam Lambung naik. Bagi tubuh saya, obat herbal ini, bukan sekadar obat masuk angin.

Jika bermanfaat. Silakan Share :