Hipoalbuminemia

Pengertian Hipoalbuminemia

Hipoalbuminemia adalah kondisi seseorang dengan kadar albumin dalam darah di bawah normal. Kondisi ini umumnya terjadi akibat penyakit berat atau penyakit kronis yang sudah berlangsung lama. Albumin adalah protein yang membentuk sebagian besar plasma darah dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi tubuh. Albumin dalam tubuh diproduksi oleh organ hati. Kadar normal albumin dalam darah berkisar antara 3,5 sampai 4,5 mg/dL. Ketika kadar albumin lebih rendah dari seharusnya, kondisi ini disebut hipoalbuminemia,

 

Gejala Hipoalbuminemia

Beberapa gejala hipoalbuminemia, antara lain:

  • Pembengkakan akibat penumpukan cairan pada wajah atau tungkai (edema).
  • Asteriksis (tremor pada pergelangan tangan).
  • Berat badan turun.
  • Bradikardia (denyut jantung lambat).
  • Diare.
  • Ensefalopati (gangguan pada otak).
  • Gangguan irama jantung.
  • Ginekomastia (pembesaran payudara pada pria).
  • Hepatomegali dan splenomegali.
  • Hilangnya lemak di bawah lapisan kulit.
  • Hipotensi (tekanan darah rendah).
  • Jaundice (sakit kuning).
  • Kulit kering dan kasar.
  • Lambatnya pertumbuhan pada anak.
  • Luka sulit sembuh.
  • Mual dan muntah.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Palmar erythema (telapak tangan memerah).
  • Pembengkakan kelenjar air liur.
  • Pembesaran jantung.
  • Pembesaran lidah (makroglosia).
  • Penurunan jumlah massa otot.
  • Spider angiomas (berkumpulnya pembuluh darah kecil di permukaan kulit).

 

Penyebab Hipoalbuminemia

Beberapa penyebab hipoalbuminemia, antara lain:

  • Diabetes, yaitu tingginya kadar gula akibat kurangnya produksi hormon insulin.
  • Gagal jantung.
  • Hipertiroidisme, yaitu ketika kelenjar tiroid yang menghasilkan hormon secara berlebih.
  • Kekurangan asupan protein, kalori, vitamin, atau gangguan penyerapan.
  • Lupus, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang tubuh.
  • Peradangan dalam tubuh yang dapat terjadi akibat sepsis, luka bakar, pasca tindakan operasi, atau pasca pemasangan ventilator.
  • Sindrom nefrotik, yaitu gangguan ginjal yang menyebabkan kebocoran protein.
  • Sirosis, yaitu terbentuknya jaringan parut pada hati akibat kerusakan jangka panjang.
baca juga  Henoch Schonlein Purpura

 

Diagnosis Hipoalbuminemia

Dokter akan mendiagnosis hipoalbuminemia dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan darah, untuk mengukur kadar albumin dalam darah.
  • Pemeriksaan rasio albumin kreatinin, untuk mengukur kadar albumin yang bocor melalui urine.
  • Pencitraan, dengan menggunakan USG abdomen (perut), untuk mendeteksi kemungkinan sirosis hati. Ekokardiografi, untuk mendeteksi kemungkinan gagal jantung. Foto Rontgen, untuk mengetahui penyebab terjadinya peradangan.
  • Biopsi, dengan mengambil sampel jaringan hati atau ginjal untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.

 

Pengobatan Hipoalbuminemia

Penanganan hipoalbuminemia tergantung pada penyebab yang mendasarinya, antara lain:

  • Hipoalbuminemia akibat kekurangan nutrisi, dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan kaya protein untuk meningkatkan kadar albumin, seperti kacang-kacangan, putih telur, ikan gabus, susu, serta produk turunannya.
  • Hipoalbuminemia akibat gangguan ginjal, dapat diatasi dengan obat-obatan untuk menangani hipertensi, seperti captopril atau candesartan.
  • Hipoalbuminemia akibat mengalami peradangan, dapat diatasi dengan pemberian obat kortikosteroid, yang dapat mencegah turunnya kadar albumin.
  • Pemberian transfusi albumin melalui infus di rumah sakit dalam pengawasan dokter.

 

Pencegahan Hipoalbuminemia

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari hipoalbuminemia, antara lain dengan menghindari pola hidup yang dapat memicu penyakit yang dapat berakibat hipoalbuminemia serta menghindari minum minuman beralkohol.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.

Jika bermanfaat. Silakan Share :