Breaking News

Jantung Koroner Bisa Sembuh

Penyakit jantung dan stroke adalah penyebab utama kematian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan perawatan tepat, kematian akibat penyakit kardiovaskular bisa dicegah.

Bahkan, masalah itu bisa dicegah dengan menghindari faktor risiko terkena penyakit tersebut. Pada peringatan Hari Jantung Sedunia, 29 September 2016, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Asia Tenggara Poonam Khetrapal Singh menyampaikan secara tertulis, mempertahankan kesehatan jantung agar terhindar dari penyakit kardiovaskular amat penting.

Ada beberapa kebiasaan utama yang bisa ditumbuhkan tiap orang, seperti menghindari konsumsi rokok dan alkohol serta makan buah dan sayur yang cukup setiap hari. Mengurangi konsumsi garam hingga kurang dari satu sendok makan sehari pun berguna menekan tekanan darah sehingga mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.

Hal yang juga penting ialah berolahraga setidaknya 30 menit per hari, 5 kali seminggu.

Pada saat yang sama, pemerintah bisa mensoasialisasikan kesehatan jantung dan mengurangi beban penyakit.

Dengan cara, antara lain, membangun infrastruktur publik, seperti taman dan jalur pesepeda, mendorong aktivitas fisik, mendidik gaya hidup sehat untuk meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan individu membuat keputusan untuk hidup sehat. Salah satu penyakit kardiovaskular yang menyebabkan banyak kematian ialah penyakit jantung koroner.

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyempitan pembuluh darah arteri akibat endapan dalam dinding pembuluh darah koroner, sementara pembuluh darah sebagai penyuplai oksigen, dan nutrisi ke otot jantung.

Karena menyempit, aliran darah pembawa oksigen dan zat makanan jadi terganggu. Itu bisa menyebabkan kematian mendadak, gangguan irama jantung, ataupun gagal jantung.

Gaya hidup tak sehat, seperti banyak mengonsumsi makanan berlemak, merokok, minum alkohol, diabetes melitus, kegemukan, kurang berolahraga, dan stres, bisa menyebabkan timbunan plak.

baca juga  Manfaat Daun Krokot untuk Kesehatan Jantung, hingga Mata

Faktor usia, jenis kelamin, dan keturunan jadi faktor risiko yang tak bisa dimodifikasi. Peluang PJK pada laki- laki lebih tinggi dibanding perempuan, tetapi risiko pada perempuan jadi tinggi saat telah menopause.

Serangan jantung terjadi saat kebutuhan oksigen pada jantung meningkat. Ketika aktivitas meningkat, sedangkan aliran darah yang masuk terhambat plak. Saat terjadi serangan jantung, plak bisa lepas dan menyebabkan gumpalan darah (trombus) hingga menyumbat aliran darah.

Menurut Kepala Unit Pelayanan Jantung Terpadu RSCM Eka Ginanjar, ketika serangan jantung terjadi, biasanya muncul gejala khas, seperti nyeri dada seperti tertindih benda berat yang menjalar ke punggung, lengan kiri, leher, rahang, hingga geraham. Pasien juga biasanya akan lemas, muncul keringat dingin, pucat, dan sesak.

Sayangnya, karena kurangnya pengetahuan, gejala itu disalahartikan masyarakat sebagai masuk angin atau angin duduk.

Upaya yang biasa dilakukan bukanlah segera ke rumah sakit, melainkan malah menganggap normal, memijat, atau mengeroki punggung mereka. Hingga menyebabkan pasien serangan jantung terlambat dibawa ke RS bahkan tak terselamatkan nyawanya.

Padahal, dalam penanganan serangan jantung, ada periode emas, yakni dalam waktu 12 jam setelah terjadi serangan, pasien harus sudah mendapat tindakan medis. Bahkan, idealnya ada door to balloon atau waktu sejak pasien masuk instalasi gawat darurat hingga dipasang balon pada pembuluh darah tak lebih dari 90 menit.

Intervensi

Sebelum 12 jam, trombus atau gumpalan pembuluh darah belum mengeras sehingga lebih mudah disedot. Trombus dihilangkan lebih dulu dengan penyedotan atau dicairkan dengan obat.

Selanjutnya, prosedur koroner perkutan primer (PCI) dilakukan. Intervensi merupakan pilihan terbaik bagi pasien serangan jantung. Teknik disebut juga sebagai angioplasti koroner.

Tindakan PCI primer dengan menyuntikkan anestesi lokal ke pangkal paha atau tangan. Setelah sayatan kecil, dokter memasukkan selang fleksibel kecil (kateter) ke dalam vena di kaki, pangkal paha atau tangan.

baca juga  Redakan rasa cemas dengan 6 langkah ini!

Dokter mengarahkan kateter ke lokasi sumbatan di jantung dengan bantuan tampilan bagian dalam pembuluh darah melalui layar komputer.

Setelah itu, kateter kedua lebih sempit dengan cincin di ujungnya dimasukkan ke kateter pertama. Ketika mencapai titik penyempitan, cincin akan ditiup untuk memperluas pembuluh darah yang tersumbat.

Setelah itu, stent dipasang untuk mempertahankan lebar pembuluh darah. Balon dikempiskan dan kateter ditarik sehingga stent ada di dalam pembuluh darah.

Jika penyumbatan parah, operasi by pass jadi pilihan terbaik. Kesempatan operasi besar untuk mengumpulkan pembuluh darah dari kaki atau tangan (pembuluh vena) di jantung.

Menurut Eka, penanganan serangan jantung akan terus berkembang di masa depan. Salah satunya memanfaatkan sel punca darah. Meskipun masih dalam tahap penelitian, pengobatan serangan jantung dengan sel punca di RSCM.

Meski demikian, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Ismoyo Sunu menekankan, daripada mengobati, mencegah penyakit jantung jauh lebih penting. Caranya, menghindari faktor risiko yang bisa dimodifikasi dan periksa kesehatan secara teratur.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%
Jika bermanfaat. Silakan Share :

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *