Penemuan kacamata terbilang telat. Baru ditemukan di abad ke-15, hal ini membuat kita bertanya bagaimana orang jaman dulu yang rabun jauh dapat bekerja dengan baik?

Padahal, fenomena rabun jauh sudah dicatat oleh Aristoteles sejak 350 tahun sebelum masehi. Namun, penggunaan kacamata baru menjamur di abad ke 20.

 

Tokoh sejarah yang diketahui menggunakan lensa konveks untuk membantu matanya yang rabun akibat usia adalah Paus Leo kesepuluh, yang digambar oleh Rafael. Tampak bahwa ia memegang sejenis lensa untuk koreksi rabun jauh.

Namun, rabun jauh baru menjadi epidemik baru-baru ini. Bahkan studi yang dilakukan oleh Institut Optometris menunjukkan di Korea Selatan, sekitar 95% orang muda berusia 19 tahun berkacamata.

Salah satu teori yang berusaha menjelaskan fenomena ini adalah bahwa anak kecil jaman sekarang lebih sering berada di dalam rumah dibanding di luar rumah sehingga menyebabkan perkembangan mata yang lebih panjang.

Namun ternyata, jaman dahulu di Eropa, rabun jauh tidak dilihat sebagai cacat melainkan suatu bakat yang berharga di bidang seni. Untuk menciptakan lukisan yang perlu sapuan kuas yang presisi, orang-orang yang bermata rabun ini sering dianggap berharga dan banyak dipekerjakan di biara.

Namun, jumlah ini meningkat di jaman modern dan persepsi berubah. Sekitar 2,5 miliar orang di dunia mengalami rabun jauh dan kacamata menjadi jalan keluar andalan.