Bulan Mei, Bulan Kesadaran Kesehatan Mental

Bulan Mei, Bulan Kesadaran Kesehatan Mental

Sejak 1949, Bulan Mei menjadi Bulan Kesadaran Kesehatan Mental (Mental Health Awareness Month) di seluruh warga Amerika. Setiap tahun jutaan orang Amerika menghadapi kenyataan hidup dengan penyakit mental.

Selama bulan Mei, Mental Health America, dan organisasi lain yang berafiliasi dalam kesehatan mental menyelenggarakan serangkaian kegiatan tahunan tentang berbagai topik kesehatan. Demi melawan stigma, memberikan dukungan, mendidik masyarakat dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung orang dengan penyakit mental dan keluarga mereka.

Mei adalah Bulan Kesehatan Mental 2019

Tahun 2019, menandai tahun ke-70 MHA yang merayakan Bulan Kesehatan Mental!, dengan memperluas tema tahun lalu # 4Mind4Body ke tingkat berikutnya, ketika kami menjelajahi topik persahabatan hewan (termasuk hewan peliharaan dan hewan pendukung), spiritualitas, humor, keseimbangan kehidupan kerja, dan rekreasi dan koneksi sosial sebagai cara untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesehatan umum.

Jenis penyakit mental yang dimaksud di sini seperti :

depression; suatu suasana hati yang lemah, dan tidak menyukai aktivitas yang dapat memengaruhi pikiran, perilaku, kecenderungan, perasaan, dan rasa sejahtera seseorang.

schizophrenia; gangguan mental yang ditandai dengan perilaku sosialyang tidak normal dan kegagalan untuk memahami realitas

bipolar disorder; sebelumnya disebut manic depression, atau gangguan mental yang menyebabkan depresi dan periode peningkatan suasana hati secara abnormal

Semua penyakit mental di atas bisa menyebabkan bunuh diri. Konteks yang melatarbelakangi Mental Health America untuk menjangkau jutaan orang dan meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mental melalui media, acara lokal, dan bahkan film sejak tahun 1949.

Ada 5 (lima) hal yang perlu diketahui tentang kesehatan mental:

1. Penyakit Mental adalah Normal

Orang dengan masalah kesehatan mental merasa berbeda dari orang lain; Meskipun banyak diskusi yang menyinggung fakta bahwa seolah olah mereka jarang bertemu. Penelitian terbaru mengklaim bahwa penyakit mental sangat umum.
Dari hasil penelitian terhadap pria dan wanita dengan usia 11-38 tahun, hanya 17% yang menghindari penyakit mental, 41% memiliki kondisi kesehatan mental yang berlangsung selama bertahun-tahun, dan 42% memiliki penyakit mental yang berumur pendek.

baca juga  Minuman Sehat Ini Mencegah Haus Saat Puasa

Ini menunjukkan bahwa, cepat atau lambat, penyakit mental menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Depresi, kecemasan, dan kecanduan obat-obatan adalah diagnosis yang paling umum dalam penelitian ini.

Ini menunjukkan bahwa cepat atau lambat penyakit mental akan menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Depresi, kecemasan, dan  adalah diagnosis paling umum dari penelitian ini.

2. Jenis Kelamin Mempengaruhi Diagnosis Kesehatan Jiwa

Banyak dari kita pernah mendengar bahwa 1 dari 68 anak yang didiagnosis menderita autisme, mayoritas adalah laki-laki. Sebuah studi baru menunjukkan ini mungkin karena provider (alat pendeteksi) gagal mengenali tanda-tanda autisme pada anak perempuan. Alasannya? Rasa empati yang berbeda antar jenis kelamin.

Mereka yang autis sering tampak kurang memiliki rasa empati atau mengenali isyarat sosial. Menurut penelitian, anak perempuan lebih menunjukkan tanda-tanda empati. Para peneliti percaya anak perempuan menguasai keterampilan sosial jauh lebih kuat daripada anak lelaki. Jadi anak perempuan, secara sadar atau tidak, memiliki rasa sosial yang tinggi.

3. Di Seluruh Dunia, Depresi adalah Penyebab Utama Terjadinya Kecacatan

Penyebab utama terjadinya kecacatan bukanlah kanker ataupun nyeri kronis, melainkan depresi. Walaupun banyak orang menyadari hal ini, tingkat depresi bukannya semakin membaik; antara 2005-2015, tingkat depresi sebenarnya meningkat sebesar 18%. Dan kebanyakan orang, tidak mau melakukan terapi perawatan saat depresi melanda mereka.

4. Kesehatan Mental dan Fisik Tidak Terpisahkan

Kita tidak hanya tahu bahwa kesehatan mental dan fisik saling mendukung. Namun, selama beberapa generasi, telah terjadi perubahan pikiran yang memisahkan mental dan fisik.

Contoh dimana kesehatan mental dan fisik itu sangat berhubungan; beberapa penelitian menunjukkan bahwa peradangan kronis dapat menyebabkan depresi.

Di sisi lain, penyakit mental dapat mempengaruhi kesehatan fisik, bahkan menyebabkan gejala kronis. Peran latihan dalam melawan penyakit mental didokumentasikan baik. Orang yang menjalani kemoterapi lebih rentan depresi, bahkan ketika peneliti memeriksa efek yang sudah ada pada penderita kanker.

baca juga  Bau Mulut (Halitosis)

Sebuah penelitian baru, menunjukkan bahwa untuk menurunkan risiko depresi, lebih disarankan mengkonsumsi makanan rendah lemak, daripada susu berlemak. Pikiran kita berada di otak, dan otak hidup di dalam tubuh. Itu dipengaruhi oleh apa yang kita makan, bagaimana kita menghabiskan waktu kita, dan kesehatan kita secara keseluruhan.

5. Masalah Lingkungan Untuk Kesehatan Mental

Banyak diskusi kesehatan mental berfokus pada genetika, zat kimia otak, dan fenomena biologis lainnya. Memang benar bahwa penyakit mental bisa diwarisi secara biologis, tetapi itu tidak semuanya. Lingkungan dapat memengaruhi perilaku gen, seperti yang ditunjukkan oleh studi epigenetik.

Lingkungan yang penuh stress dan tidak kondusif dapat mengubah cara gen berperilaku, memicu munculnya penyakit mental. Sebagai contoh, penelitian baru-baru ini, ditemukan bahwa ada hubungannya antara tumbuh kembang seseorang yang kekurangan makanan dengan meningkatnya risiko kesehatan mental.

Lingkungan di mana orang tumbuh juga mengajarkan mereka bagaimana menangani semuanya, mulai dari stres harian hingga trauma serius. Misalnya, orang dapat belajar berpikir depresif dari orang tua mereka, atau mereka mungkin mengalami trauma pada usia dini yang berakhir dengan masalah kesehatan mental mereka.

Penyakit mental tentu memiliki komponen biologis, tetapi percaya bahwa itu sudah terprogram dan tidak dapat dihindari sama dengan percaya bahwa pengobatan tidak ada gunanya. Itu tidak benar. Perawatan membantu otak mempelajari kembali cara-cara baru memproses informasi seperti halnya perawatan membantu mereka mengatasi emosi yang sulit. Dan sama seperti lingkungan dapat membuat seseorang memiliki penyakit mental, pengobatan pun dapat membantu lepas dari penyakit mental.

Kondisi di Indonesia

Di Indonesia, isu tentang kesehatan mental belum lah menjadi hal yang penting. Padahal kalau kita melihat kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini, sudah banyak orang yang terkena gangguan kesehatan mental.

baca juga  Batu Empedu

Hal ini bisa kita lihat dari perilaku sosial yang terjadi di media sosial maupun di lingkungan sebenarnya; menggunakan kalimat-kalimat yang tidak sesuai etika sosial dalam menyampaikan pendapat mereka. Di atas sudah disebutkan bahwa otak berpengaruh terhadap etika bersosial. Jadi jika etika sosial sudah dianggap tidak ada lagi, berarti ada masalah dengan proses kerja otak, dan hal ini akan berujung pada gangguan kesehatan mental.

Biarlah kita masyarakat Indonesia juga menyadari pentingnya kesehatan mental. Bukan hanya masyarakat tapi pemerintah harus juga bergerak akan hal ini, sehingga penyakit mental tidak semakin banyak menjangkiti masyarakat Indonesia, melainkan semakin banyak yang dipulihkan.

“A life lived for others, is the only life worth living.” Albert Einstein

“Kehidupan hidup untuk orang lain, adalah satu-satunya kehidupan yang layak dijalani.” – Albert Einstein

Jika bermanfaat. Silakan Share :