Sindrom Insensitivitas Androgen

 Sindrom Insensitivitas Androgen

Pengertian Sindrom Insensitivitas Androge

Sindrom insensitivitas androgen (SIA) adalah suatu kondisi langka yang memengaruhi perkembangan organ genital dan reproduksi seorang anak. Anak yang lahir dengan SIA adalah laki-laki secara genetik, namun penampilan eksternal kelaminnya dapat menunjukkan kelamin perempuan atau ambigu.

 

Gejala Sindrom Insensitivitas Androgen

Gejala dari sindrom insensitivitas androgen (SIA) tergantung dari jenisnya. Pada sindrom insensitivitas androgen komplit (SIAK) dapat ditemukan:

  • Memiliki Miss V, namun tidak memiliki rahim atau tidak mengalami menstruasi dan tidak mengalami pertumbuhan rambut ketiak serta kemaluan saat pubertas.
  • Tidak mengalami pertumbuhan bulu ketiak atau rambut kemaluan.
  • Terdapat pertumbuhan payudara, seperti perempuan pada umumnya.
  • Kriptorkismus yang tidak diketahui, kecuali anak mengidap hernia dan pembengkakan pada bibir Miss V (labia).

Contoh gejala yang dapat dialami oleh pengidap sindrom insensitivitas androgen parsial (PAIS), di antaranya :

  • Memiliki Mr P yang kecil dengan hipospadia atau memiliki Miss V dengan pembesaran klitoris.
  • Kriptorkismus
  • Pertumbuhan payudara seperti wanita, yang terlihat mirip ginekomastia pada laki-laki.

 

Penyebab Sindrom Insensitivitas Androgen

Penyebab sindrom insensitivitas androgen (SIA) diduga karena masalah atau kelainan genetik pada kromosom X. Adanya kelainan tersebut membuat tubuh mengalami kesulitan untuk menunjukkan respons terhadap hormon yang mendorong pembentukan perawakan atau penampilan laki-laki.

Sindrom ini dibagi menjadi dua kategori utama, yakni SIA komplit dan SIA inkomplit. Pada SIA komplit, umumnya Mr P dan bagian tubuh pria lainnya tidak terbentuk. Oleh sebab itu, pada saat lahir, anak tampak sebagai perempuan. Kondisi SIA komplit dapat terjadi pada sekitar 1 dari 20.000 kelahiran hidup.

Pada SIA inkomplit dapat memiliki ciri-ciri pria yang bervariasi. SIA inkomplit bisa mencakup beberapa kondisi lainnya, seperti:

  • Kegagalan satu atau kedua testis untuk turun ke skrotum setelah lahir.
  • Hipospadia, yaitu sebuah kondisi ketika muara uretra berada di bagian belakang Mr P dan bukan di puncak.
  • Sindrom Reifenstein.

 

baca juga  Sindrom Sjogren

Faktor Risiko Sindrom Insensitivitas Androgen

Sindrom Insensitivitas Androgen merupakan penyakit genetik, sehingga untuk faktor risiko penyebabnya belum ada yang pasti dapat menimbulkan penyakit ini.

 

Diagnosis Sindrom Insensitivitas Androgen

Diagnosis sindrom insensitivitas androgen (SIA) dapat dilakukan saat bayi lahir melalui pemeriksaan fisik atau pada saat dia memasuki usia remaja di mana gejala-gejala mulai terlihat. Untuk sindrom insensitivitas androgen parsial dapat ditemukan lebih awal, karena anak dengan PAIS kemungkinan memiliki penampilan kelamin, seperti perempuan dan laki-laki. Berbeda dengan sindrom insensitivitas androgen komplit (SIAK) yang ditemukan lebih telat, biasanya saat anak tidak mendapat menstruasi.

Bila dokter menduga anak mengidap AIS, maka dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan seperti:

  • USG daerah panggul
  • Tes darah untuk memeriksa kadar hormon, seperti testosteron, luteinizing hormone (LH), dan follicle-stimulating hormone (FSH).
  • Tes genetika untuk menentukan kromosom seks dan melihat kelainan genetik pada kromosom X.
  • Biopsi untuk memeriksa jika terdapat testis yang tidak turun dalam perut anak (kriptorkismus).

Bagi wanita yang memiliki keluarga dengan riwayat SIA, dokter biasanya akan menyarankan dilakukannya tes penyaring saat kehamilan dengan mengambil sampel jaringan dari bagian plasenta dengan teknik chorionic villus sampling (CVS), pada kehamilan 11–14 minggu dan dilakukan pemeriksaan genetik dari sampel tersebut. Sampel juga dapat diambil dari air ketuban dengan teknik amniocentesis antara 15–20 minggu kehamilan. Namun, perlu diingat bahwa kedua tes tersebut dapat meningkatkan risiko keguguran.

 

Pengobatan dan Efek Samping Sindrom Insensitivitas Androgen

Penanganan pada sindrom insensitivitas androgen (SIA), biasanya disesuaikan dengan kondisi pengidap. Umumnya, testis yang terdapat di abdomen atau selangkangan tidak perlu diangkat hingga anak selesai masa pertumbuhan dan melalui pubertas. Pada saat tersebut, barulah testis perlu diangkat karena dapat berkembang menjadi sel-sel abnormal atau kanker. ini mirip seperti umumnya kondisi testis yang tidak turun.

baca juga  Sleep Apnea

Penanganan terapi pengganti hormon estrogen dapat diresepkan setelah pubertas. Selain itu, penting untuk diingat bahwa penanganan dan penentuan jenis kelamin dapat menjadi hal yang sangat kompleks. Karena itu, perlu proses dan pembahasan yang jernih pada masing-masing pengidap sebelum mengambil keputusan tertentu.

Kemandulan dan kanker testis ada contoh komplikasi yang berisiko dialami oleh pengidap sindrom insensitivitas androgen. Selain itu, sindrom ini juga bisa berdampak pada psikologi dan kehidupan sosial pengidap. Karena itu, dukungan moral sangatlah penting agar pengidap dapat hidup secara normal.

 

Pencegahan Sindrom Insensitivitas Androgen

Karena sindrom insensitivitas androgen (SIA) disebabkan oleh kelainan genetik, belum terdapat metode pencegahan yang sepenuhnya efektif untuk menghindari terjadinya kondisi tersebut

Jika bermanfaat. Silakan Share :