Sindrom Kompartemen

Read Time:3 Minute, 14 Second

Pengertian Sindrom Kompartemen

Sindrom kompartemen adalah kondisi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan di dalam kompartemen otot, karena perdarahan atau pembengkakan setelah cedera. Cedera akan memicu pembengkakan pada otot dan jaringan di dalam kompartemen.

 

Gejala Sindrom Kompartemen

Pengidap dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung pada keparahan kondisi. Gejala yang biasanya muncul, meliputi:

  • Nyeri hebat, khususnya saat otot digerakkan.
  • Rasa penuh pada otot dan nyeri bila ditekan.
  • Otot bengkak.
  • Kesemutan atau rasa, seperti terbakar.
  • Kram otot saat berolahraga.
  • Warna kulit di sekitarnya terlihat pucat dan terasa dingin.
  • Otot terasa lemas dan mati rasa.

Disarankan untuk segera menemui dokter jika mengalami gejala sindrom kompartemen, terutama setelah terjadi cedera berat.

 

Penyebab Sindrom Kompartemen

Sindrom kompartemen dapat terjadi apabila terdapat perdarahan atau pembengkakan di dalam suatu kompartemen. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan di dalam kompartemen yang dapat menghambat aliran darah. Apabila tidak ditangani, maka kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen, karena sel otot dan sel saraf tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkannya.

Terdapat dua tipe sindrom kompartemen, yakni:

  • Sindrom Kompartemen Akut

Sindrom kompartemen tipe ini umumnya terjadi setelah seseorang mengalami cedera berat. Pada kasus yang lebih jarang, kondisi ini juga dapat terjadi setelah cedera kecil.

Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami sindrom kompartemen akut setelah mengalami patah tulang, cedera yang merusak lengan atau tungkai, ataupun sebagai akibat dari kerusakan otot yang berat.

  • Sindrom Kompartemen Kronis (Eksersional)

Sindrom kompartemen tipe ini dapat terjadi akibat cedera olahraga, terutama yang melibatkan gerakan repetitif. Hal ini cukup sering terjadi pada mereka di kelompok usia bawah 40 tahun, tetapi sebetulnya dapat dialami pada usia berapa pun.

baca juga  Sembilan Sumber Nutrisi Imunitas Anak

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami sindrom kompartemen tipe ini apabila sering melakukan aktivitas, seperti berenang, bermain tenis, ataupun berlari. Aktivitas yang intens dan kerap berulang juga dapat meningkatkan risiko. Kaitan antara olahraga dan sindrom kompartemen kronik belum dipahami secara pasti.

 

Faktor Risiko Sindrom Kompartemen

Seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami sindrom kompartemen ini apabila sering melakukan aktivitas, seperti berenang, bermain tenis, ataupun berlari. Aktivitas yang intens dan kerap berulang juga dapat meningkatkan risiko. Kaitan antara olahraga dan sindrom kompartemen kronik belum dipahami secara pasti.

 

Diagnosis Sindrom Kompartemen

Diagnosis sindrom kompartemen dapat ditentukan berdasarkan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tertentu. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa adanya tanda dan gejala sindrom kompartemen akut atau kronis.

 

Pengobatan dan Efek Samping Sindrom Kompartemen

Operasi kerap menjadi pilihan utama bagi pengidap sindrom kompartemen akut untuk menghindari komplikasi lanjutan. Tindakan operasi bernama fasciotomy akan dilakukan dengan membuka lapisan pelindung kompartemen otot (fascia) untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang sudah mati jika ditemukan. Luka operasi biasanya akan ditutup beberapa hari setelahnya agar tidak menimbulkan sindrom kompartemen kembali. Salah satu teknik penutupan luka selain jahitan adalah skin grafting, di mana dokter akan mengambil kulit sehat dari tubuh pengidap dan menggunakannya untuk menutup luka. Tindakanskin grafting biasa dilakukan jika luka tidak kunjung pulih. Operasi untuk memperbaiki sindrom kompartemen sebisa mungkin dilakukan segera dengan tetap memperhatikan kondisi pengidap.

Bagi pengidap sindrom kompartemen kronis, biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi obat antiinflamasi non-streoid dan melakukan fisioterapi guna meregangkan otot. Selain itu, pengidap juga akan disarankan untuk mengganti jenis olahraga atau mengurangi frekuensi olahraga serta istirahat yang cukup.

baca juga  Serologi

Jika sindrom kompartemen tidak segera ditangani, khususnya pada kasus sindrom kompartemen akut, maka beberapa komplikasi berikut ini dapat terjadi:

    • Infeksi
    • Muncul jaringan parut pada otot, sehingga otot menjadi tidak lentur dan berkurang fungsinya
    • Amputasi
    • Kerusakan saraf permanen
    • Rhabdomyolysis
    • Gagal ginjal
    • Kematian.

Pencegahan Sindrom Kompartemen

Untuk sindrom kompartemen akut, diagnosis dan penanganan dini dapat mencegah terjadinya komplikasi. Walaupun belum terdapat cara yang definitif untuk pencegahan gangguan ini.

Pengidap yang menggunakan perban perlu mengamati bila nyeri dan pembengkakan yang terjadi semakin berat meski telah mendapat pengobatan, maka ia harus segera berdiskusi dengan petugas kesehatan.

Gunakan juga sepatu yang tepat dan meningkatkan fleksibilitas untuk membantu mencegah atau menurunkan derajat keparahan sindrom kompartemen kronis. Membangun ketahanan tubuh secara bertahap dapat mencegah sindrom kompartemen kronis.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%
Jika bermanfaat. Silakan Share :
Posted in K, S

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *